Melahirkan yang Nyaman
Pun saat melahirkan, yang kedua ini saya banyak belajar dari melahirkan anak pertama. Terimakasih untuk para supporter terutama suami saya dan anak saya. Kerjasama yang luar biasa pagi, siang, sore, malam untuk bertemu adek bayi yaa... Suka duka bersama kita lewati.💟💟💟💟 Ya, kami memutuskan tidak pulang kampung. Banyak alasan dan pertimbangannya. Salah satunya, psikolog kita (saya, anak dan suami) akan lebih sehat jika tetap berkumpul melahirkan diperantauan ketimbang dikampung yang berarti harus LDRan. Lebih repot memang, tapi itu pilihan kami. Hehee
Rumah Sakit Tambak
Alhamdulilah kami tak salah memilih tempat bersalin. Semua karyawan mulai dari cleaning service hingga tenaga medisnya adalah teman lahiran yang keren. Apalagi bidan bidannya yang menurut saya merangkap jadi seorang doula. Semua bidannya pinter2 dan sabar2, yang paling saya ingat bidan Putri karena doi yang paling sabar diantara para bidan yang sabar2. Ada si 2 bidan favorit lainnya cuman lupa namanya (saking lamanya mau nulis gak jadi2)
Terimakasih, support kalian sangat berarti. Apalagi saat itu saya sempat bolak balik ke ruang observasi sendiri selama 2 hari 1 malam hingga akhirnya orangtua dari kampung halaman datang untuk menemani. Bidan bidan inilah yg setia menemani saya, meski saat itu kondisinya penuh dengan ibu2 yang juga akan melahirkan.
"Wah ibu masih disini jadi bu RT yaa...", gurau salah satu bidan yg baru saja mengganti shift sore 😂😂😂
Lama ya memang menunggu anak kedua saya ini mau keluar secara alami. Tapi saya sangat menikmati prosesnya. Jalan jalan keliling rumah sakit, naik turun tangga dsb. Pun alhamdulilah semua pegawai disana ramah2 jika berpapasan. Tak hanya menyapa, mereka juga menyemangati saya.
"Ayoo Buu semangattt...tapi jangan capek2 yaa...", tegur salah satu pegawai di ruang timbangan.
Simple. Tapi itu sangat hangat dan dekat bagi saya yg harus jalan jalan sendiri, sementara suami berjuang momong anak supaya gak rewel nyariin bundanya. 💪💪💪
Dokter hamil pilihan!!
Terimakasihih dokter Yuyun, doi adalah dokter spog saya dari hamil anak pertama. Cuman dulu pas Hasna, kami memutuskan untuk melahirkan di kampung. Jadi kemarin adalah pengalaman pertama melahirkan bersama dokter Yuyun. Dokter spog yang pro normal banget. Jadi kenapa saya bisa lama di rumah sakit, karena doi masih mengusahakan normal tanpa induksi. Karena meski usia janin sudah 41minggu tapi berdasar cek CTG kondisinya masih bagus dan masih memungkinkan untuk normal tanpa induksi. 4kali CTG frekuensi kontraksi dan jantung bayi menunjukkan diagram yg kuat dan normal, namun ternyata 2 kali CTG terakhir mengalami penurunan sehingga diambil lah tindakan induksi, karena pertimbangan air ketuban.
Ah iya, saat melahirkan saya juga dibantu oleh dokter infal yaitu dokter Bote. Ini karena dokter Yuyun 1 hari itu sudah mengajukan cuti untuk acara keluarganya di Bogor. Sedih sii, tapi alhamdulilah dokter Yuyun tetap bertanggung jawab dan memantau saya. Bahkan malam hari setelah siangnya saya melahirkan, doi sempatkan untuk menjenguk langsung dari bogor sambil bawa oleh oleh khas bogor (hayoo tebak apa??yang bisa jawab ntar dapet giveaway deh..hahaaa S&K berlaku)
Dokter Yuyun adalah dokter spog yang sangat detail, jeli dan ahli membaca USG. Doi ready 24jam untuk pasiennya, karena jam brapa pun kita whatsapp pasti dibalas dengan ramah. Apapun pertanyaan atau keluhannya. Bahkan di kontrol terakhir setelah melahirkan itu menjadi moment cukup mengharukan bagi saya.
"Okey...kalo gitu 2tahun lagi yaa semoga masih bisa berjumpa," ucap dokter Yuyun karena suami tak mengijinkan istrinya KB. 😁😁 #bantu rayuin donk buibu....
Dokter Bote pun keren. Gak heran, doi termasuk dokter favorit di rumah sakit. Tiap kali praktek, antrean pasiennya kayak kereta. Dan kalo mau dapet no antrian awal, booking nya harus 1bulan sebelum katanya. Hahahaaa, Dulu waktu tau kalau hamil Hasna sempat mau sama doi, cuman karena dapet no antriannya uda banyak kami pun mengurungkan niat. Dan kini baik dokter Bote maupun dokter Yuyun, pasiennya uda sama ajaa. Hahahaa, harus pake strategi kalo mau kontrol sama mereka. Oiya, keduanya bisa ditemui di rs tambak dan griya puspa rs persahabatan. Soal detail kehebatan masing2 dokter ini sudah banyak yg review kok. Jadi monggo ketik aja namanya di Mbah google.
Mbrojol
Berbekal pengalaman melahirkan anak pertama, saya berjanji pada diri sendiri meski sakit merasakan kontraksi tapi harus tetap cantik dan anggun saat melahirkan anak yg kedua. Dan alhamdulilah, hingga pembukaan 6 bahkan masih sempat ngerumpi dan wefie2 sama ibu. Wkwkwk, pas ibu belum dateng bahkan sempat bikin rusuh di grup whatsapp temen2 kuliah dulu. ✌✌😁😁
Pembukaan 6 ketuban pecah sekitar pukul 10 pagi, pukul 10:27 Hanin lahir. Pun itu saya tak sempat dipindah ke ruang bersalin. Jadi tetap di ruang observasi dengan mengejan 2 kali dan menyerukan nama Allah lebih keras dari sebelumnya. Tentu saja sambil didampingi ibu, dokter Bote, 3 bidan dan 1 bidan anak. Alhamdulilah ketuban pun masih bagus (enggak jenuh/hijau). Dari prediksi dokter Yuyun sebelumnya, pembukaan yang lama bisa karena kondisi janin terlilit, bisa pula bb bayi besar. Itu hanya bisa diketahui saat sudah lahir nanti. Dan ternyata hasilnyaa adalah bb bayi lebih besar dari perkiraan di usg 3.3 nyatanya 3.75 dengan panjang 51. Apa pun itu alhamdulilah alhamdulilah alhamdulilah... Not a single word can describe my feeling!!!
Bidan bidan pun sangat membantu baik secara fisik maupun mental. Bahkan ada yang merelakan tangannya untuk diremas2 oleh saya. Wkwkwk
Sementara dokter Bote seperti seorang pendongeng yg menceritakan setiap tahapannya. Saya sangat menikmati laporan2 dari dokter Bote yang seperti bercerita itu, membuat saya lebih bisa menikmati proses melahirkan dan membuat saya lebih bersemangat untuk berjuang. Itulah mengapa saya bilang mereka seperti seorang doula. Mereka mensugesti pasien sedemikian rupa hingga dapat melahirkan dengan nyaman dan tanpa meninggalkan trauma. Sungguh sangat berbeda dengan melahirkan anak pertama yang mana dokter dan bidan hanya seperti berteriak2 ditelinga saya mengintruksikan ini itu dan justru membuat saya makin panik bahkan sempat terbesit untuk menyerah karena sudah lelah.
Lapar dan Kamar
"Laperr...aku mau bubur kacang ijonya," ucap saya yang sedang dijahit dan IMD karena tiba2 ingat masih punya snack dari rumah sakit yang belum dimakan.
Nah, kalo soal kamar rawat inap, saya pilih kamar no 1. Standar si, didalamnya ada 1 kasur pasien, sofabed dan kamar mandi dalam. Pilih kelas 1 alasannya karena pengen Hasna nyaman, uda gitu aja. Dan alhamdulilah tampak nya doi nyaman, bisa tidur siang dan malam. Meski tetap saja kalau ditanya, rumah sendiri adalah tempat paling nyaman di dunia mau kayak apa itu bentuknya. Hehehee
Dua anak cukup???
Lega rasanya setelah melahirkan anak kedua. Ketakutan2 saat melahirkan telah terlewati tanpa ada rasa trauma sedikit pun seperti melahirkan yg pertama dulu. Sekali lagi alhamdulilah, terimakasih ya Allah telah menambahkan 1 bidadari lagi ke dalam keluarga kami. Semoga ini bisa menjadi ladang pahala bagi kami. Amin
"Jadi...masih bisa kan nambah 2 lagi Bunda," komentar suami dimobil saat pulang dari rumah sakit 😂😂🙈🙈






Comments
Post a Comment